Selasa, 19 Juni 2012

PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN DAN PENYESUAIAN DIRI TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN


PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN DAN PENYESUAIAN DIRI TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN
Abdur Rohman
Kemandirian biasanya ditandai dengan kemampuan menentukan nasib sendiri, kreatif dan inisiatif, mengatur tingkah laku bertanggung jawab, mampu menahan diri, membuat keputusan-keputusan sendiri, serta mampu mengatasi masalah-masalah tanpa ada pengaruh dari orang lain. Oleh karena itu, perkembangan kemandirian peserta didik menuju kearah kesempurnaan menjadi sangat penting, untuk dilakukan secara serius dan terprogram. Dengan demikian, masalah penyesuaian diri menyangkut seluruh aspek kepribadian individu dalam interaksinya dengan lingkungan dalam dan luar dirinya. Jadi penyesuaian diri mencakup belajar untuk menghadapi melalui perubahan dalam tindakan atau sikap. Dengan demikian, individu memberikan reaksi yang berbeda dalam menghadapi situasi tertentu sesuai dengan proses pendekatan yang digunakannya.
Kata kunci: Bertanggung jawab, perkembangan  kemandirian, aspek kepribadian, penyesuaian diri, proses pendekatan.

LATAR BELAKANG
Sepanjang masa hidupnya, manusia mengalami perkembangan dari sikap tergantung kearah kemandirian. Pada mulanya seorang anak akan tergantung kepada orang-orang disekitarnya terutama orang tua hingga waktu tertentu. Kemudian secara perlahan-lahan anak melepaskan ketergantungan sehingga tercapailah kemandirian. Tercapainya kemandirian akan menjadikan seseorang tidak tergantung pada orang-orang disekitarnya, anak akan mampu mengatur dirinya secara bertanggung jawab mengambil keputusan secara mandiri juga mampu memaknai seperangkat prinsip-prinsip nilai. Menurut Steinberg dalam Desmita (2009: 184), kemandirian berbeda dengan tidak tergantung, karena tidak tergantung merupakan bagian untuk memperoleh kemandirian. Pencapaian kemandirian bukanlah hal yang mudah bagi remaja, namun kemandirian tetap harus diraih karena kemandirian akan memberikan dampak yang positif bagi perkembangan selanjutnya. Keberasilan remaja dalam mencapai kemandirian memerlukan reaksi-reaksi yang tepat dari keluarga dan orang-orang disekitarnya. Kumara dalam Ghufron dan Rini Risnawati (2010: 34), menyatakan bahwa kepercayaan diri merupakan cirri kepribadian yang mengandung arti keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Tuntutan yang besar terhadap kemandirian memang muncul pada masa remaja, namun kemndirian perlu ditanamkan sejak usia dini. Orang tua merupakan pemegang peranan utama disebuah keluarga dalam mengasuh dan membibing keluarga untuk meraih kendirian. Diperlukan keluarga yang mampu mengasuh dan membimbing remaja kearah kemandirian agar kemandirian remaja berkembang dengan baik. Anthony dalam Ghufron dan Rini Risnawati (2010: 34), berpendapat bahwa kepercayaan diri merupakan sikap pada diri seseorang yang dapat menerima kenyataan, dapat mengembangkan kesadaran diri, berfikir positif, memiliki kemandirian, dan mempunyai kemampuan untuk memiliki serta mencapai segala sesuatu yang diinginkan. Orang tua yang kurang memberikan kesempatan kepada remaja untuk belajar membuat keputusan secara tepat dapat membuat remaja cenderung menggantungkan pengambilaln keputusan kepada orang lain meskipun keputusan tersebut berkaitan dengan kepentingannya tanpa berusaha untuk mengambil keputusan secara mandiri. Monks dalam Desmita  (2009: 185),  menyatakan kemandirian adalah usaha untuk melepaskan diri dari orangtua dengan maksud untuk menemukan dirinya melauli proses mencari identitas ego, yaitu merupakan perkembangan ke arah individualitas yang mantap dan berdiri sendiri.

ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN DAN
PENYESUAIAN DIRI DALAM PROSES PEMBELAJARAN
Kemandirian tidak hanya didapatkan oleh remaja saat berada di rumah, namun kemandirian juga didapatkan di sekolah. Guru berperan sebagai fasilitator dalam mengembangkan kemandirian di sekolah. Kemandirian di sekolah, berkaitan dengan metode yang dipakai oleh guru  saat mengajar di dalam kelas. Guru yang mendukung perkembangan  kemandirian siswa, menerapkan cara belajar yang demokratis seperti,  memberikan kebebasan pada siswa untuk berpendapat dan  mempertahankan pendapatnya saat proses belajar di dalam kelas. Kebebasan yang diberikan oleh guru kepada siswa dapat diwujudkan  melalui kebebasan dalam mengerjakan  tugas-tugas sekolah dengan cara-cara yang siswa memiliki dan cara-cara tersebut dirasa memudahkan  siswa dalam mengerjakan tugas. Kemandirian juga terlihat dari berkurangnya ketergantungan siswa terhadap guru di sekolah seperti, pada jam pelajaran kosong karena ketidakhadiran guru di kelas, siswa  dapat belajar secara mandiri dengan membaca buku atau mengerjakan  latihan soal yang dimiliki. Menurut  Chaplin dalam Desmita (2009: 185), otonomi adalah kebebasan individu manusia untuk memilih, untuk menjadi kesatuan yang memerintah, menguasai dan menentukan dirinya sendiri.
Siswa yang mandiri, tidak lagi membutuhkan perintah dari guru atau orang tua untuk belajar ketika berada di sekolah  maupun di rumah. Siswa yang mandiri telah memiliki nilai-nilai yang dianutnya sendiri dan menganggap bahwa belajar bukanlah sesuatu yang memberatkan, namun merupakan sesuatu yang telah menjadi kebutuhan bagi siswa untuk meningkatkan prestasi di sekolah.  Individu yang memiliki penilaian positif terhadap dirinya akan menyukai dan menerima keadaan dirinya sehingga akan mengembangkan rasa percaya diri, harga diri, dan dapat melakukan penyesuaian sosial yang baik. Rasa percaya diri dan harga diri yang tumbuh seiring dengan adanya keyakinan terhadap  kemampuan dirinya membuat individu cenderung lebih aktif dan terbuka dalam melakukan hubungan sosial dengan orang lain. Sementara itu, Steinberg dalam Desmita (2009: 186), karateristik kemandirian ada tiga bentuk, antara lain sebagai berikut :
1.      Kemandirian emosional (emotional autonomy)
2.      Kemadirian tingkah laku (behavioral autonomy)
3.      Kemandirian nilai (value autonomy).
 Relasi sosial yang luas akan menjadikan individu mampu mengerti dan melakukan apa yang diharapkan oleh lingkungan, sehingga memudahkannya menyesuiakan diri dengan lingkungan. Menurut Baum dalam Desmita (2009: 193), tingkah laku penyesuaian diri diawali dengan stress, yaitu suatu keadaan di mana lingkungan mengancam atau membayakan keberadaan atau kesejahteraan atau kenyamanan diri seseorang. Fitts dalam Agustiana (2009: 208), mengemukakan bahwa konsep diri merupakan aspek penting dalam diri seseorang merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam berinteraksi dengan lingkungan. Penyesuaian diri merupakan satu proses yang mencakup respon-respon mental dan tingkah laku yang merupakan usaha individu untuk memperoleh keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungan. Penyesuaian diri yang baik akan menumbuhkan sikap yang positif dan optimis sehingga memandang kompetisi  sebagai motivator bagi dirinya. Menurut Schneiders dalam Ghufron dan Rini Risnawati (2010: 52), penyesuaian diri terdiri dari (1) penyesuaian diri personal (2) penyesuaian diri sosial (3) penyesuaian diri marital atau perkawinan (4) penyesuaian diri vokasional.

IMPLIKASI PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN DAN PENYESUAIAN DIRI TERHADAP PROSES PEMBELAJARAN
Kemandirian adalah kecakapan yang berkembangan sepanjang rentang kehidupan individu yang sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor pengalaman dan pedidikan. Oleh sebab itu, pendidikan disekolah perlu melakukan upaya-upaya pengembangan kemandirian peserta didik (Desmita, 2009: 190), diantaranya: 
1.      Mengembangkan proses belajar mengajar yang demokratis, yang
      memungkinan anak merasa dihargai.
2.      Mendorong anak untuk berpartisipasi aktif dalam pengambilan keputusan dan
      dalam kegiatan sekolah.
3.      Memberi kebebasan kepada anak untuk mengeplorasi lingkungan, mendorong
      rasa ingin tahu mereka.
4.      Penerimaan positif tanpa syarat kelebihan dan kekurangan anak, tidak
      membeda-bedakan antara anak yang satu dengan yang lain.
5.      Menjalin hubungan yang harmonis dan akrab dengan anak.
Karena disekolah guru merupakan figure pendidik yang penting dan besar pengaruhnya terhadap penyesuaian diri siswa-siswanya, maka dituntut sifat-sifat guru yang efektif (Ryans dalam Hartinah 2010: 197).

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEMANDIRIAN DAN PENYESUAIAN DIRI
Faktor-faktor yang mempengaruhi penysuaian diri dilihat dari konsep psikogenik. Psikogenik memandang bahwa penyesuaian diri di pengaruhi oleh riwayat kehidupan sosial individu terutama pengalaman khusus yang membentuk perkembangan psikologis. Desmita (2009: 196), pengalaman khusus ini lebih banyak berkaitan dengan latar belakang kehidupan keluarga, antara lain menyangkut sebagai berikut:
1.    Hubungan orangtua-anak
Merujuk pada iklim hubungan sosial dalam keluarga, apakah hubungan tersebut bersifat demokratis atau otoriter.
2.    Iklim intelektual keluarga
Merujuk pada sejauhmana iklim keluarga memberikan kemudahan bagi perkemmabangn intelektual ank, pekembangan berfikir logi atau irasional.
3.    Iklim emosional keluarga
Merujuk pada sejauhmana stabilitas hubungan dan komunikasi di dalam keluarga terjadi.
Sementara itu dilihat dari konsep sosiopsikogenik, penyesuaian diri dipengaruhi oleh faktor iklim lembaga sosial dimana individu terlibat didalamnya, (Desmita, 2009: 197), antara lain sebagai berikut:
1.   Hubungan guru dengan siswa
Merujuk pada iklim hunbungan sosial dalam sekolah.
2.   Iklim inteletual sekolah
Merujuk pada sejauhmana perlakuan guru terhadap siswa dalam memberikan kemudahan bagi perkembangan intelektual siswa sehingga tumbuh perasaan kompeten.





KESIMPULAN
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan:
Ada hubungan positif antara kemandirian dan penyesuaian diri dalam proses pembelajaran di suatu lingkungan pendidikan. Manusia tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri, maka penyesuaikan diri terhadap lingkungan hidup, pertumbuhan dan perkembangan memerlukan proses yang cukup unik. Proses penyesuaian diri dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu  (1) hubungan orangtua-anak (2) iklim intelektual keluarga (3) iklim emosional keluarga. Dari konsep sosiopsikogenik, penyesuaian diri dipengaruhi oleh faktor iklim lembaga sosial dalam lingkungan pendidikan (1) hubungan guru dengan siswa (2) iklim intelektual sekolah.




















DAFTAR PUSTAKA
Agustiana, Hendriati.2009.Psikologi Perkembangan.Bandung:Refika Aditama
Desmita.2009.Psikologi Perkembangan Peserta Didik.Bandung:Rosdakarya
Ghufron Nur, dan Rini Risnawita.2010.Teori-Teori Psikologi.Jogjakarta:Ar-      Ruzz Media
Hartinah, Hj Sitti.2008.Pengembangan Peserta Didik.Bandung:Refika Aditama






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tinggalkan komentar mengenai postingan saya ini..!?!