Selasa, 19 Juni 2012

PENERAPAN SIG DALAM KEHUTANAN


MAKALAH
PENERAPAN SIG DALAM KEHUTANAN




OLEH:
ARKANUDDIN
08740016





FAKULTAS PERTANIAN-PETERNAKAN
JURUSAN KEHUTANAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Dalam pemanenan hasil hutan di suatu kawasan areal hutan, sebelumnya para pekerja harus membuat jalan sarad. Jalan Sarad merupakan jaringan jalan yang dibuat untuk pengambilan kayu pada kawasan hutan produksi. Dengan perencanaan yang baik jaringan jalan ini dapat menekan dampak kerusakan yang terjadi. Penggunaan alat berat dalam kegiatan pembangunan jalan sarad dan penyaradan kayu juga memberikan dampak besar terhadap kondisi hutan.
 Jalan sarad dalam hutan sangat penting peranannya untuk memudahkan para pekerja dalam mengangkut kayu ke tempat yang dituju. Dalam hal ini, pembuatan jalan sarad tidak serta merta langsung begitu saja, untuk lebih memudahkan para pekerja dalam pembuatan jalan sarad pekerja harus menggunakan alat yang dapat memberi gambaran informasi mengenai kondisi geografis tempat tersebut. Alat yang digunakan ini adalah SIG. 
Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information System disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spesial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini.
          Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi
I.2 Rumusan Masalah
Bagaimana fungsi dan penerapan SIG dalam kehutanan?
BAB. II
DASAR TEORI

2.I  Konsep dasar Sistem Informasi Geografis
Pertengahan 1970-an telah dikembangkan sistem-sistem yang secara khusus dibuat untuk menangani masalah informasi yang bereferansi geografis dalam berbagai cara dan bentuk. Masalah-masalah ini mencakup:
  1. Pengorganisasian data dan informasi.
  2. Penempatan informasi pada lokasi tertentu.
  3. Melakukan komputasi, memberikan ilusi keterhubungan satu sama lainnya (koneksi), beserta analisa-analisa spasial lainnya.
Sebutan umum untuk sistem-sistem yang menangani masalah-masalah tersebut adalah Sistem Informasi Geografis. Dalam literatur, Sistem Informasi Geografis dipandang sebagai hasil perpaduan antara sistem komputer untuk bidang Kartografi (CAC) atau sistem komputer untuk bidang perancangan (CAD) dengan teknologi basis data (data base).
Pada awalnya, data geografis hanya disajikan di atas peta dengan menggunakan symbol, garis dan warna. Elemen-elemen geografis ini dideskripsikan di dalam legendanya misalnya: garis hitam tebal untuk jalan utama, garis hitam tipis untuk jalan sekunder dan jalan-jalan yang berikutnya.
Selain itu, berbagai data yang di-overlay-kan berdasarkan sistem koordinat yang sama. Akibatnya sebuah peta menjadi media yang efektif baik sebagai alat presentasi maupun sebagai bank tempat penyimpanan data geografis. Tetapi media peta masih mengandung kelemahan atau keterbatasan. Informasi-informasi yang disimpan, diproses dan dipresentasikan dengan suatu cara tertentu, dan biasanya untuk tujuan tertentu pula, tidak mudah untuk merubah presentasi tersebut karena peta selalu menyediakan gambar atau simbol unsur geografis dengan bentuk yang tetap walaupun diperlukan untuk kebutuhan yang berbeda.
2.2 Definisi Sistem Informasi Geografis
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu prosedur manual atau beberapa set berbasis komputer dari prosedur-prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan atau memanipulasi data geografis. SIG dapat juga diartikan sebagai himpunan atau kumpulan yang terpadu dari hardware, software, data dan liveware (orang-orang yang bertanggungjawab dalam merancang, mengimplemantasikan dan menggunakan SIG). SIG juga merupakan hasil dari perpaduan disiplin ilmu didalam beberapa proses data spasial. Hal ini dapat dilihat dari gambar berikut ini
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, maka Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat berfungsi sebagai: bank data terpadu, yaitu dapat memandu data spasial dan non spasial dalam suatu basis data terpadu; sistem modeling dan analisi, yaitu dapat digunakan sebagai sarana evaluasi potensi wilayah dan perencanaan spasial; sistem pengelolaan yang bereferensi geografis, yaitu untuk mengelola operasianal dan administrasi lokasi geografis; sebagai sistem pemetaan komputasi, yaitu sistem yang dapat menyajikan peta sesuai dengan kebutuhan.
2.3 Subsistem SIG
Sistem Informasi Geografis dapat diuraikan menjadi beberapa subsistem sebagai berikut:
·         Data Input: Subsistem ini bertugas untuk mengumpulkan data dan mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber dan bertanggung jawab dalam mengkonversi atau mentransfortasikan format-format data-data aslinya kedalam format yang dapat digunakan oleh SIG.
·          Data output: Subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian basis data baik dalam bentuk softcopy maupun bentuk hardcopy seperti: tabel, grafik dan peta.
·         Data Management: Subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun data atribut ke dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, di-update dan di-edit.
·         Data Manipulation & Analysis: Subsistem ini menentukan informasi-informasi yang dapat dihasilkan oleh SIG dan melakukan manipulasi serta pemodelan data untuk menghasilkan informasi yang diharapkan.

2.4 Aplikasi SIG untuk Kehutanan Tropis
Hutan tropis merupakan ekosistem dan juga sumber daya alam yang penting, baik secara lokal maupun global. Beberapa fungsi dari hutan tropis adalah: produktif (ekonomis), perlindungan (ekologis), psikologis dan keagamaan, serta wisata dan pendidikan. Luas hutan tropis berkurang dengan sangat cepat selama tiga dekade belakangan ini dan laju kerusakan hutan tropis adalah tertinggi di dunia.
Faktor-faktor pendorong kerusakan hutan tropis berbeda dari negara ke negara, tetapi pada dasarnya bisa dikelompokkan menjadi tiga: faktor sosial-ekonomi,  meliputi pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, kemiskinan; faktor fisik dan lingkungan, meliputi kedekatan dari sungai dan jalan, jarak ke pusat kota, topografi, kesuburan tanah; dan kebijakan pemerintah, meliputi kebijakan di bidang pertanian, kehutanan, dan lain-lain. Perencanaan dan pengelolaan sumber daya hutan yang baik mutlak diperlukan untuk menjaga kelestariannya.
Untuk itu, diperlukan informasi yang memadai yang bisa dipakai oleh pengambil keputusan, termasuk diantaranya informasi spasial. Sistem Informasi Geografis (SIG), Penginderaan Jauh (PJ) dan Global Positioning System (GPS) merupakan tiga teknologi spasial yang sangat berguna. Sebagian besar aplikasi SIG untuk kehutanan belum mencakup hutan tropis, meskipun dalam sepuluh tahun ini aplikasi SIG untuk hutan tropis sudah mulai berkembang.
Hal ini sejalan dengan perubahan tren dalam perencanaan dan pengelolaan hutan tropis. Secara tradisional, kebanyakan tujuan perencanaan adalah untuk keperluan produksi, terutama kayu. Kemudian dengan semakin meningkatnya kesadaran akan nilai lingkungan hidup disamping keuntungan ekonomi yang ditawarkannya, hutan semakin banyak dikelola sebagai suatu sistem ekologis. Beberapa hal yang semakin dipandang penting adalah: (i) kehutanan sosial/kehutanan berbasiskan kemasyarakatan, yang melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan, dan mempromosikan kesetaraan sosial, (ii) reforestasi dan rehabilitasi dari lahan-lahan yang rusak atau terdeforestasi, terutama melalui pengembangan perkebunan tanaman industri, (iii) penunjukkan dan pengelolaan area perlindungan dan suaka margasatwa; dan (iv) penggunaan dan pelestarian hasil hutan bukan kayu.
Perubahan tujuan pengelolaan hutan tersebut diiringi oleh perubahan dalam proses perencanaan. Kecenderungan proses perencanaan adalah perubahan pendekatan dari top down dan centralized menjadi bottom-up dan decentralized. Bersamaan dengan itu masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, LSM dan masyarakat umum mempunyai kesempatan memberikan partisipasi yang lebih tinggi dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Oleh karena itu transparansi dan keterbukaan dalam pengambilan keputusan meningkat. Selain itu koordinasi dan kooperasi inter dan intra organisasi menjadi lebih efektif serta semakin banyak sektor dan disiplin yang terlibat.
Seiring dengan kecenderungan tersebut, penggunaan informasi, termasuk indigenous knowledge, dalam pengambilan keputusan meningkat. Pada khususnya, kita akan mendiskusikan point yang terakhir, yaitu makin meningkatnya penggunaan dan kebutuhan informasi kehutanan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Semakin rumitnya proses pengambilan keputusan dalam berbagai aspek pengelolaan hutan membuat kebutuhan akan informasi semakin esensial.
Informasi bisa dilihat sebagai input dasar dari perumusan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan dan evaluasi. Tidak adanya dan tidak layaknya informasi bisa berakibat fatal pada program dan proyek kehutanan tropis. scanner, plotter, printer, sedangkan perangkat lunak bisa dipilih baik yang komersial maupun yang tersedia dengan bebas. Contoh perangkat lunak yang banyak dipakai adalah ARC/INFO, ArcView, IDRISI, ER Mapper, GRASS, MapInfo.
Format-format data akan dibahas secara khusus pada bab selanjutnya.  Beberapa cara memasukkan data ke dalam SIG adalah melalui keyboard, digitizer, scanner, sistem penginderaan jauh, survei lapangan, GPS. Sumber daya manusia sebagai komponen SIG bukan hanya meliputi staf teknikal, yaitu yang bertugas dalam hal pemasukan data maupun pemrosesan dan penganalisaan data, tetapi juga koordinator yang bertugas untuk mengontrol kualitas dari SIG.
Ada pun elemen fungsional SIG meliputi pengambilan data, pemrosesan awal, pengelolaan data, manipulasi dan analisa data, dan pembuatan output akhir. Penggunaan SIG untuk kehutanan tropis di negara berkembang belum lama dimulai, dan cukup bervariasi antar negara, yaitu dalam hal tujuan, aplikasi, skala operasional, kesinambungan, dan pembiayaan. Proses dimulainya penggunaan SIG di negara berkembang pada umumnya adalah dari proyek percontohan, dan bukan sistem yang berjalan secara operasional. Oleh karena itu SIG sebagian besar dikembangkan tanpa sebuah obyektif jangka panjang untuk mengintegrasikannya dengan SIG atau basisdata lain.
SIG sebagian besar bukan dimaksudkan untuk digunakan oleh banyak orang dan biasanya dirancang untuk keperluan khusus. Selain itu SIG lebih banyak dikembangkan pada level regional daripada level nasional dan urban. Dataset kebanyakan terdiri dari data biofisik, sedangkan data sosial-ekonomi jarang tercakup. Karena pendanaan dari pengembangan SIG kebanyakan dari bantuan internasional, proyek SIG cenderung dikelola oleh ahli yang biasanya masa kerjanya pendek, dan bukan oleh staf lokal. Selain kendala yang berkaitan dengan proses dimulainya pengembangan SIG di atas, beberapa faktor lain yaitu: Informasi (Spasial, dan non-spasial), Kebijakan, rencana, pelaksanaan, Perumusan, Kebijakan, Perencanaan Pelaksanaan, Pengawasan, Evaluasi( Sumber : Apan, 1999).
Memperbaiki kekurangan dalam penggunaan dan pengelolaan informasi seharusnya merupakan prioritas utama pada negara berkembang. Kapasitas untuk mengumpulkan dan memproses data yang relevan seharusnya terus dikembangkan. Karena kebanyakan data yang relevan untuk pengelolaan hutan merujuk kepada penyebaran spasial, SIG merupakan alat yang sangat membantu.
2.5 Jalan Sarad
Jalan Sarad merupakan jaringan jalan yang dibuat untuk pengambilan kayu pada kawasan hutan produksi. Kegiatan pemanenan kayu merupakan salah satu dari kegiatan pemanfaatan hutan pada kawasan hutan produksi.
Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk menghasilkan kayu guna pemenuhan kebutuhan bahan bak industri hilir dalam negeri dan untuk pemenuhan terhadap permintaaan pasar. Banyaknya kayu yang dikeluarkan dari kawasan hutan produksi akan tergantung sekali kepada kemampuan hutan produksi tersebut menyediakan kayu serta bagaimana kegiatan pemanenan tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, konsekuansi logis dari kegiatan pemanenan tersebut selain kayu yang diperolah juga dampak secara langsung maupun tidak langsung dilapangan. Dampak kegiatan pemanenan terhadap lingkungan adalah gambaran bagaimana pemanenan tersebut dijalankan dan juga merupakan petunjuk bagaimana kualitas pekerjaan pemanenan pada akhirnya (Widodo, 2004).
Penyaradan merupakan salah satu sistem penting di dalam pemanenan kayu, fungsinya adalah memindahkan kayu dari tempat pengumpulan sementara atau TPN. Penyaradan kayu dibedakan menjadi tiga yaitu ; penyaradan dengan hewan, penyaradan dengan traktor, dan penyaradan dengan kabel. Penyaradan dengan kayu dipengaruhi oleh ukuran kayu, topografi, cuaca jalan sarad, ketrampilan tenaga kerja, dan keadaan tanah. Tanah yang lembek memiliki topografi yang berat, ukuran kayu yang kecil dan tenaga kerja yang rendah akan mengurangi produktivitas traktor. Penyaradan ke arah bukit menyebabkan kemampuan alat sarad untuk menempuh jalan yang lebih pendek daripada penyaradan di daerah datar (Hendrick,1995).
            Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai kawasan hutan terluas didunia dengan kondisi keanekaragaman yang sangat tinggi dimulai dari flora dan fauna. Dengan kawasan yang sangat luas, indonesia menjadi negara yang tergantung pada produksi hutan, terkhusus dibidang kayu log. Pada waktu penebangan maka diperlukan berbagai sarana dan prasarana yang mendukung salah satunya adalah jalan sarad (Brinker dan Wolf,2002).                  
Jalan sarad sangat diperlukan didalam pekerjaan penyaradan. Yang dimaksud dengan penyaradan adalah kegiatan pemindahan log dari tunggak ketempat pengumpulan kayu (TPN/landing). Jalan sarad merupakan jalur didalam pengangkutan kayu dari lokasi tunggak ketempat pengumpulan kayu. Jalan sarad hanya dapat dilalui sebanyak empat trip, hal ini dilakukan agar kualitas tanah tidak rusak akibat seringnya jalan tersebut dilalui pleh kendaraan. Apabila jalan sarad ini dilalui lebih dari empat trip kemungkinann besar traktor yang mengangkut log akan terperangkap di dalam hutan akibat kerusakan jalan. Dan hal ini dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar (Pamulardi,1995).
BAB. III
PEMBAHASAN
Dengan semakin berkembangnya teknologi saat ini, khususnya teknologi dalam hal system georafis,segala cakupan mengenai aktifitas-aktifitas manusia semakin mudah. SIG (Sistem Informasi Geografis) adalah alat yang memudahkan manusia dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti pembuatan jalan sarad. Dengan adanya alat ini, maka akan semakin memudahkan para pekerja dalam menentukan letak lokasi dimana mereka akan bekerja.
System informasi georafis (SIG) dalam penerapannya di bidang kehutanan sangat membantu dalam proses pembuatan jalan sarad. Karena dengan adanya informasi-informasi dalam alat tersebut kita tidak perlu membuang-buang tenaga lagi untuk meninjau atau mengukur tempat-tempat yang menjadi tujuan pembuatan jalan sarad, kita tinggal mengaktifkan alat tersebut maka alat tersebut akan menampilkan segala informasi suatu kawasan yang kita perlukan.
Elemen fungsional yang terkandung dalam SIG meliputi; pengambilan data, pemrosesan awal, pengelolaan data, manipulasi dan analisa data, dan pembuatan output akhir. Penggunaan SIG untuk kehutanan tropis di negara berkembang belum lama dimulai, dan cukup bervariasi antar negara, yaitu dalam hal tujuan, aplikasi, skala operasional, kesinambungan, dan pembiayaan. Proses dimulainya penggunaan SIG di negara berkembang pada umumnya adalah dari proyek percontohan, dan bukan sistem yang berjalan secara operasional. Oleh karena itu SIG sebagian besar dikembangkan tanpa sebuah obyektif jangka panjang untuk mengintegrasikannya dengan SIG atau basisdata lain (Anonymous, 2012).






BAB. IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
SIG adalah alat informasi geografis sangat penting peranannya dalam pembuatan jalan sarad, dimana fungsinya tersebut dapat mencakup, antara lain; Menentuan lokasi medan yang baik untuk pembuatan jalan sarad dan memudahkan manusia dalam melakukan pengambilan data, pemrosesan awal, pengelolaan data, manipulasi dan analisa data, dan pembuatan output akhir. Dalam pengoperasiannya system informasi geografis ini memiliki kelemahan pada cuaca artinya jika cuaca berawan atau mendung maka keakuratan data atau informasi yang diambil akan mengalami gangguan keakuratan namun sebaliknya jika cuaca cerah tanpa awan dilangit maka keakuratan alat tersebuat akan baik.

4.2  Saran
Dalam mengoperasikan system informasi geografis (SIG) maka kita perlu memperhatikan keberadaan cuaca seperti adanya cuaca mendung akan sangat menghambat kinerja dari SIG itu sendiri. Untuk itu pilihlah waktu yang baik dimana cuaca sedang cerah.











DAFTAR PUSTAKA

            Diakses pada tanggal 14 mei 2012
            Diakses pada tanggal 14 mei 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

tinggalkan komentar mengenai postingan saya ini..!?!