Selasa, 19 Juni 2012

PENERAPAN SIG DALAM KEHUTANAN


MAKALAH
PENERAPAN SIG DALAM KEHUTANAN




OLEH:
ARKANUDDIN
08740016





FAKULTAS PERTANIAN-PETERNAKAN
JURUSAN KEHUTANAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2012
BAB I
PENDAHULUAN
I.I Latar Belakang
Dalam pemanenan hasil hutan di suatu kawasan areal hutan, sebelumnya para pekerja harus membuat jalan sarad. Jalan Sarad merupakan jaringan jalan yang dibuat untuk pengambilan kayu pada kawasan hutan produksi. Dengan perencanaan yang baik jaringan jalan ini dapat menekan dampak kerusakan yang terjadi. Penggunaan alat berat dalam kegiatan pembangunan jalan sarad dan penyaradan kayu juga memberikan dampak besar terhadap kondisi hutan.
 Jalan sarad dalam hutan sangat penting peranannya untuk memudahkan para pekerja dalam mengangkut kayu ke tempat yang dituju. Dalam hal ini, pembuatan jalan sarad tidak serta merta langsung begitu saja, untuk lebih memudahkan para pekerja dalam pembuatan jalan sarad pekerja harus menggunakan alat yang dapat memberi gambaran informasi mengenai kondisi geografis tempat tersebut. Alat yang digunakan ini adalah SIG. 
Sistem Informasi Geografis (bahasa Inggris: Geographic Information System disingkat GIS) adalah sistem informasi khusus yang mengelola data yang memiliki informasi spesial (bereferensi keruangan). Atau dalam arti yang lebih sempit, adalah sistem komputer yang memiliki kemampuan untuk membangun, menyimpan, mengelola dan menampilkan informasi berefrensi geografis, misalnya data yang diidentifikasi menurut lokasinya, dalam sebuah database. Para praktisi juga memasukkan orang yang membangun dan mengoperasikannya dan data sebagai bagian dari sistem ini.
          Teknologi Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk investigasi ilmiah, pengelolaan sumber daya, perencanaan pembangunan, kartografi dan perencanaan rute. Misalnya, SIG bisa membantu perencana untuk secara cepat menghitung waktu tanggap darurat saat terjadi bencana alam, atau SIG dapat digunaan untuk mencari lahan basah (wetlands) yang membutuhkan perlindungan dari polusi
I.2 Rumusan Masalah
Bagaimana fungsi dan penerapan SIG dalam kehutanan?
BAB. II
DASAR TEORI

2.I  Konsep dasar Sistem Informasi Geografis
Pertengahan 1970-an telah dikembangkan sistem-sistem yang secara khusus dibuat untuk menangani masalah informasi yang bereferansi geografis dalam berbagai cara dan bentuk. Masalah-masalah ini mencakup:
  1. Pengorganisasian data dan informasi.
  2. Penempatan informasi pada lokasi tertentu.
  3. Melakukan komputasi, memberikan ilusi keterhubungan satu sama lainnya (koneksi), beserta analisa-analisa spasial lainnya.
Sebutan umum untuk sistem-sistem yang menangani masalah-masalah tersebut adalah Sistem Informasi Geografis. Dalam literatur, Sistem Informasi Geografis dipandang sebagai hasil perpaduan antara sistem komputer untuk bidang Kartografi (CAC) atau sistem komputer untuk bidang perancangan (CAD) dengan teknologi basis data (data base).
Pada awalnya, data geografis hanya disajikan di atas peta dengan menggunakan symbol, garis dan warna. Elemen-elemen geografis ini dideskripsikan di dalam legendanya misalnya: garis hitam tebal untuk jalan utama, garis hitam tipis untuk jalan sekunder dan jalan-jalan yang berikutnya.
Selain itu, berbagai data yang di-overlay-kan berdasarkan sistem koordinat yang sama. Akibatnya sebuah peta menjadi media yang efektif baik sebagai alat presentasi maupun sebagai bank tempat penyimpanan data geografis. Tetapi media peta masih mengandung kelemahan atau keterbatasan. Informasi-informasi yang disimpan, diproses dan dipresentasikan dengan suatu cara tertentu, dan biasanya untuk tujuan tertentu pula, tidak mudah untuk merubah presentasi tersebut karena peta selalu menyediakan gambar atau simbol unsur geografis dengan bentuk yang tetap walaupun diperlukan untuk kebutuhan yang berbeda.
2.2 Definisi Sistem Informasi Geografis
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah suatu prosedur manual atau beberapa set berbasis komputer dari prosedur-prosedur yang digunakan untuk mengumpulkan atau memanipulasi data geografis. SIG dapat juga diartikan sebagai himpunan atau kumpulan yang terpadu dari hardware, software, data dan liveware (orang-orang yang bertanggungjawab dalam merancang, mengimplemantasikan dan menggunakan SIG). SIG juga merupakan hasil dari perpaduan disiplin ilmu didalam beberapa proses data spasial. Hal ini dapat dilihat dari gambar berikut ini
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas, maka Sistem Informasi Geografis (SIG) dapat berfungsi sebagai: bank data terpadu, yaitu dapat memandu data spasial dan non spasial dalam suatu basis data terpadu; sistem modeling dan analisi, yaitu dapat digunakan sebagai sarana evaluasi potensi wilayah dan perencanaan spasial; sistem pengelolaan yang bereferensi geografis, yaitu untuk mengelola operasianal dan administrasi lokasi geografis; sebagai sistem pemetaan komputasi, yaitu sistem yang dapat menyajikan peta sesuai dengan kebutuhan.
2.3 Subsistem SIG
Sistem Informasi Geografis dapat diuraikan menjadi beberapa subsistem sebagai berikut:
·         Data Input: Subsistem ini bertugas untuk mengumpulkan data dan mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber dan bertanggung jawab dalam mengkonversi atau mentransfortasikan format-format data-data aslinya kedalam format yang dapat digunakan oleh SIG.
·          Data output: Subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian basis data baik dalam bentuk softcopy maupun bentuk hardcopy seperti: tabel, grafik dan peta.
·         Data Management: Subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun data atribut ke dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, di-update dan di-edit.
·         Data Manipulation & Analysis: Subsistem ini menentukan informasi-informasi yang dapat dihasilkan oleh SIG dan melakukan manipulasi serta pemodelan data untuk menghasilkan informasi yang diharapkan.

2.4 Aplikasi SIG untuk Kehutanan Tropis
Hutan tropis merupakan ekosistem dan juga sumber daya alam yang penting, baik secara lokal maupun global. Beberapa fungsi dari hutan tropis adalah: produktif (ekonomis), perlindungan (ekologis), psikologis dan keagamaan, serta wisata dan pendidikan. Luas hutan tropis berkurang dengan sangat cepat selama tiga dekade belakangan ini dan laju kerusakan hutan tropis adalah tertinggi di dunia.
Faktor-faktor pendorong kerusakan hutan tropis berbeda dari negara ke negara, tetapi pada dasarnya bisa dikelompokkan menjadi tiga: faktor sosial-ekonomi,  meliputi pertambahan penduduk, pertumbuhan ekonomi, kemiskinan; faktor fisik dan lingkungan, meliputi kedekatan dari sungai dan jalan, jarak ke pusat kota, topografi, kesuburan tanah; dan kebijakan pemerintah, meliputi kebijakan di bidang pertanian, kehutanan, dan lain-lain. Perencanaan dan pengelolaan sumber daya hutan yang baik mutlak diperlukan untuk menjaga kelestariannya.
Untuk itu, diperlukan informasi yang memadai yang bisa dipakai oleh pengambil keputusan, termasuk diantaranya informasi spasial. Sistem Informasi Geografis (SIG), Penginderaan Jauh (PJ) dan Global Positioning System (GPS) merupakan tiga teknologi spasial yang sangat berguna. Sebagian besar aplikasi SIG untuk kehutanan belum mencakup hutan tropis, meskipun dalam sepuluh tahun ini aplikasi SIG untuk hutan tropis sudah mulai berkembang.
Hal ini sejalan dengan perubahan tren dalam perencanaan dan pengelolaan hutan tropis. Secara tradisional, kebanyakan tujuan perencanaan adalah untuk keperluan produksi, terutama kayu. Kemudian dengan semakin meningkatnya kesadaran akan nilai lingkungan hidup disamping keuntungan ekonomi yang ditawarkannya, hutan semakin banyak dikelola sebagai suatu sistem ekologis. Beberapa hal yang semakin dipandang penting adalah: (i) kehutanan sosial/kehutanan berbasiskan kemasyarakatan, yang melibatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya hutan, dan mempromosikan kesetaraan sosial, (ii) reforestasi dan rehabilitasi dari lahan-lahan yang rusak atau terdeforestasi, terutama melalui pengembangan perkebunan tanaman industri, (iii) penunjukkan dan pengelolaan area perlindungan dan suaka margasatwa; dan (iv) penggunaan dan pelestarian hasil hutan bukan kayu.
Perubahan tujuan pengelolaan hutan tersebut diiringi oleh perubahan dalam proses perencanaan. Kecenderungan proses perencanaan adalah perubahan pendekatan dari top down dan centralized menjadi bottom-up dan decentralized. Bersamaan dengan itu masyarakat yang tinggal di sekitar hutan, LSM dan masyarakat umum mempunyai kesempatan memberikan partisipasi yang lebih tinggi dalam proses perencanaan dan pengambilan keputusan. Oleh karena itu transparansi dan keterbukaan dalam pengambilan keputusan meningkat. Selain itu koordinasi dan kooperasi inter dan intra organisasi menjadi lebih efektif serta semakin banyak sektor dan disiplin yang terlibat.
Seiring dengan kecenderungan tersebut, penggunaan informasi, termasuk indigenous knowledge, dalam pengambilan keputusan meningkat. Pada khususnya, kita akan mendiskusikan point yang terakhir, yaitu makin meningkatnya penggunaan dan kebutuhan informasi kehutanan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Semakin rumitnya proses pengambilan keputusan dalam berbagai aspek pengelolaan hutan membuat kebutuhan akan informasi semakin esensial.
Informasi bisa dilihat sebagai input dasar dari perumusan kebijakan, perencanaan, pelaksanaan, serta pengawasan dan evaluasi. Tidak adanya dan tidak layaknya informasi bisa berakibat fatal pada program dan proyek kehutanan tropis. scanner, plotter, printer, sedangkan perangkat lunak bisa dipilih baik yang komersial maupun yang tersedia dengan bebas. Contoh perangkat lunak yang banyak dipakai adalah ARC/INFO, ArcView, IDRISI, ER Mapper, GRASS, MapInfo.
Format-format data akan dibahas secara khusus pada bab selanjutnya.  Beberapa cara memasukkan data ke dalam SIG adalah melalui keyboard, digitizer, scanner, sistem penginderaan jauh, survei lapangan, GPS. Sumber daya manusia sebagai komponen SIG bukan hanya meliputi staf teknikal, yaitu yang bertugas dalam hal pemasukan data maupun pemrosesan dan penganalisaan data, tetapi juga koordinator yang bertugas untuk mengontrol kualitas dari SIG.
Ada pun elemen fungsional SIG meliputi pengambilan data, pemrosesan awal, pengelolaan data, manipulasi dan analisa data, dan pembuatan output akhir. Penggunaan SIG untuk kehutanan tropis di negara berkembang belum lama dimulai, dan cukup bervariasi antar negara, yaitu dalam hal tujuan, aplikasi, skala operasional, kesinambungan, dan pembiayaan. Proses dimulainya penggunaan SIG di negara berkembang pada umumnya adalah dari proyek percontohan, dan bukan sistem yang berjalan secara operasional. Oleh karena itu SIG sebagian besar dikembangkan tanpa sebuah obyektif jangka panjang untuk mengintegrasikannya dengan SIG atau basisdata lain.
SIG sebagian besar bukan dimaksudkan untuk digunakan oleh banyak orang dan biasanya dirancang untuk keperluan khusus. Selain itu SIG lebih banyak dikembangkan pada level regional daripada level nasional dan urban. Dataset kebanyakan terdiri dari data biofisik, sedangkan data sosial-ekonomi jarang tercakup. Karena pendanaan dari pengembangan SIG kebanyakan dari bantuan internasional, proyek SIG cenderung dikelola oleh ahli yang biasanya masa kerjanya pendek, dan bukan oleh staf lokal. Selain kendala yang berkaitan dengan proses dimulainya pengembangan SIG di atas, beberapa faktor lain yaitu: Informasi (Spasial, dan non-spasial), Kebijakan, rencana, pelaksanaan, Perumusan, Kebijakan, Perencanaan Pelaksanaan, Pengawasan, Evaluasi( Sumber : Apan, 1999).
Memperbaiki kekurangan dalam penggunaan dan pengelolaan informasi seharusnya merupakan prioritas utama pada negara berkembang. Kapasitas untuk mengumpulkan dan memproses data yang relevan seharusnya terus dikembangkan. Karena kebanyakan data yang relevan untuk pengelolaan hutan merujuk kepada penyebaran spasial, SIG merupakan alat yang sangat membantu.
2.5 Jalan Sarad
Jalan Sarad merupakan jaringan jalan yang dibuat untuk pengambilan kayu pada kawasan hutan produksi. Kegiatan pemanenan kayu merupakan salah satu dari kegiatan pemanfaatan hutan pada kawasan hutan produksi.
Tujuan dari kegiatan ini yaitu untuk menghasilkan kayu guna pemenuhan kebutuhan bahan bak industri hilir dalam negeri dan untuk pemenuhan terhadap permintaaan pasar. Banyaknya kayu yang dikeluarkan dari kawasan hutan produksi akan tergantung sekali kepada kemampuan hutan produksi tersebut menyediakan kayu serta bagaimana kegiatan pemanenan tersebut dilaksanakan. Dengan demikian, konsekuansi logis dari kegiatan pemanenan tersebut selain kayu yang diperolah juga dampak secara langsung maupun tidak langsung dilapangan. Dampak kegiatan pemanenan terhadap lingkungan adalah gambaran bagaimana pemanenan tersebut dijalankan dan juga merupakan petunjuk bagaimana kualitas pekerjaan pemanenan pada akhirnya (Widodo, 2004).
Penyaradan merupakan salah satu sistem penting di dalam pemanenan kayu, fungsinya adalah memindahkan kayu dari tempat pengumpulan sementara atau TPN. Penyaradan kayu dibedakan menjadi tiga yaitu ; penyaradan dengan hewan, penyaradan dengan traktor, dan penyaradan dengan kabel. Penyaradan dengan kayu dipengaruhi oleh ukuran kayu, topografi, cuaca jalan sarad, ketrampilan tenaga kerja, dan keadaan tanah. Tanah yang lembek memiliki topografi yang berat, ukuran kayu yang kecil dan tenaga kerja yang rendah akan mengurangi produktivitas traktor. Penyaradan ke arah bukit menyebabkan kemampuan alat sarad untuk menempuh jalan yang lebih pendek daripada penyaradan di daerah datar (Hendrick,1995).
            Indonesia merupakan salah satu negara yang mempunyai kawasan hutan terluas didunia dengan kondisi keanekaragaman yang sangat tinggi dimulai dari flora dan fauna. Dengan kawasan yang sangat luas, indonesia menjadi negara yang tergantung pada produksi hutan, terkhusus dibidang kayu log. Pada waktu penebangan maka diperlukan berbagai sarana dan prasarana yang mendukung salah satunya adalah jalan sarad (Brinker dan Wolf,2002).                  
Jalan sarad sangat diperlukan didalam pekerjaan penyaradan. Yang dimaksud dengan penyaradan adalah kegiatan pemindahan log dari tunggak ketempat pengumpulan kayu (TPN/landing). Jalan sarad merupakan jalur didalam pengangkutan kayu dari lokasi tunggak ketempat pengumpulan kayu. Jalan sarad hanya dapat dilalui sebanyak empat trip, hal ini dilakukan agar kualitas tanah tidak rusak akibat seringnya jalan tersebut dilalui pleh kendaraan. Apabila jalan sarad ini dilalui lebih dari empat trip kemungkinann besar traktor yang mengangkut log akan terperangkap di dalam hutan akibat kerusakan jalan. Dan hal ini dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar (Pamulardi,1995).
BAB. III
PEMBAHASAN
Dengan semakin berkembangnya teknologi saat ini, khususnya teknologi dalam hal system georafis,segala cakupan mengenai aktifitas-aktifitas manusia semakin mudah. SIG (Sistem Informasi Geografis) adalah alat yang memudahkan manusia dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan seperti pembuatan jalan sarad. Dengan adanya alat ini, maka akan semakin memudahkan para pekerja dalam menentukan letak lokasi dimana mereka akan bekerja.
System informasi georafis (SIG) dalam penerapannya di bidang kehutanan sangat membantu dalam proses pembuatan jalan sarad. Karena dengan adanya informasi-informasi dalam alat tersebut kita tidak perlu membuang-buang tenaga lagi untuk meninjau atau mengukur tempat-tempat yang menjadi tujuan pembuatan jalan sarad, kita tinggal mengaktifkan alat tersebut maka alat tersebut akan menampilkan segala informasi suatu kawasan yang kita perlukan.
Elemen fungsional yang terkandung dalam SIG meliputi; pengambilan data, pemrosesan awal, pengelolaan data, manipulasi dan analisa data, dan pembuatan output akhir. Penggunaan SIG untuk kehutanan tropis di negara berkembang belum lama dimulai, dan cukup bervariasi antar negara, yaitu dalam hal tujuan, aplikasi, skala operasional, kesinambungan, dan pembiayaan. Proses dimulainya penggunaan SIG di negara berkembang pada umumnya adalah dari proyek percontohan, dan bukan sistem yang berjalan secara operasional. Oleh karena itu SIG sebagian besar dikembangkan tanpa sebuah obyektif jangka panjang untuk mengintegrasikannya dengan SIG atau basisdata lain (Anonymous, 2012).






BAB. IV
PENUTUP
4.1  Kesimpulan
SIG adalah alat informasi geografis sangat penting peranannya dalam pembuatan jalan sarad, dimana fungsinya tersebut dapat mencakup, antara lain; Menentuan lokasi medan yang baik untuk pembuatan jalan sarad dan memudahkan manusia dalam melakukan pengambilan data, pemrosesan awal, pengelolaan data, manipulasi dan analisa data, dan pembuatan output akhir. Dalam pengoperasiannya system informasi geografis ini memiliki kelemahan pada cuaca artinya jika cuaca berawan atau mendung maka keakuratan data atau informasi yang diambil akan mengalami gangguan keakuratan namun sebaliknya jika cuaca cerah tanpa awan dilangit maka keakuratan alat tersebuat akan baik.

4.2  Saran
Dalam mengoperasikan system informasi geografis (SIG) maka kita perlu memperhatikan keberadaan cuaca seperti adanya cuaca mendung akan sangat menghambat kinerja dari SIG itu sendiri. Untuk itu pilihlah waktu yang baik dimana cuaca sedang cerah.











DAFTAR PUSTAKA

            Diakses pada tanggal 14 mei 2012
            Diakses pada tanggal 14 mei 2012

KULINER KHAS BIMA (kopas)


(kabua ngaha ndai Mbojo)

iKelompok Lauk Pauk.
Letak Bima yang secara geografis berada di pesisir pantai mempengaruhi selera makan orang Bima. Kebanyakan makanan Bima terdiri dari ikan dan hasil laut lainnya. Orang Bima bilang kalau belum makan pakai ikan rasanya belum makan. Orang Bima tidak mengenal kata lauk pauk, kalau daerah lain makan pakai apa? maksudnya lauknya apa? orang Bima akan bertanya langsung Ngaha kai uta au? yang artinya makan pakai ikan apa? jawabanya  bisa saja ngaha kai uta janga yang arti secara harafiahnya makan pakai ikan ayam atau ngaha kai uta mbe’e yang artinya makan pakai ikan kambing kata ikan biasanya menempel pada nama lauk pauk lainnya.
Walaupun orang Bima menggemari ikan laut, bukan berarti di Bima tidak mengenal makanan selain ikan. Daging Kambing adalah makanan favorit setelah ikan disusul Daging Rusa atau Menjangan, Daging Sapi, Kerbau dan Kelompok Unggas serta terakhir Daging Kuda.

Kelompok Sayuran.
Daun dan Buah Kelor adalah sayuran yang paling populer di Bima, bisa dibilang selama pohon kelor melambai orang Bima tidak akan kelaparan. Pohon kelor juga adalah pohon yang bersahabat, semakin dipetik daunnya semakit lebat tumbuhnya. Selain daun dan buah kelor sayuran khas Bima ada juga “sandanawa” yang sampai saat ini saya belum tahu nama Indonesianya. Dalam Bahasa Bima sayur disebut “tambeca”, mungkin singkatan dari “uta mbeca” yang artinya “ikan basah”. Dalam Kuliner Bima memang tidak banyak dikenal sayuran yang ditumis, sayur itu selalu identik dengan makanan yang berkuah.

Kelompok Pelengkap atau Sambal.
Ini paling penting, disebut demikian karena banyak sekali ragam jenis sambal, baik sambal mentah maupun matang. Enak atau tidaknya suatu santapan tergantung makanan pelengkap ini. Tidak semua sambal cocok untuk segala jenis makanan, semua ada peruntukannya masing-masing.

Kelompok Penganan/Makanan Kecil.
Jenis penganan Bima banyak dipengaruhi oleh citarasa melayu, manis bersantan dan Melayu banyak dipengaruhi Timur Tengah, tidak heran ada beberapa penganan Bima yang punya citarasa Timur Tengah.
RESEP-RESEP
Kelompok Lauk Pauk :
1.   UTA PALOMARA LONDE (BANDENG KUAH SANTAN). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 ekor ikan bandeng ukuran sedang (6-7ons) bersihkan sisik dan isi perutnya (bila suka biarkan saja isi perutnya, buang empedunya saja), potong 5 bagian; 1 batang sereh dan 1 ruas jari lengkuas memarkan; 1 ikat daun kemangi atau segenggam; 1 sendok makan minyak goreng untuk menumis; 100 cc air asam jawa/bima dari 2-3 buah asam matang; 2 gelas air untuk kuah. Bumbu yang dihaluskan : 2 cabe merah; 5 butir bawang merah; 3 siung bawang putih; 1 buah tomat ukuran sedang; ½ ruas jari kunyit; Garam secukupnya. Cara membuatnya : Cara 1. Panaskan minyak, setelah panas masukkan bumbu yang sudah dihaluskan diikuti sereh dan lengkuas, setelah harum masukkan ikan bandeng aduk-aduk dan biarkan beberapa detik lalu masukkan air asam ditambah 2 gelas air. Masak di atas api sedang selama kira-kira 20 menit, setelah matang masukkan kemangi, tambahkan sedikit gula atau penyedap rasa bila suka.  Siap dihidangkan. Cara 2. Bumbu-bumbu di atas tidak dihaluskan tapi cukup diiris tipis-tipis, bila suka tambahkan irisan belimbing wuluh tetapi air asam harus dikurangi. Siapkan panci atau penggorengan. Campur minyak dan semua bumbu yang sudah diiris serta ikan bandeng ke dalam panci serta air asam dan 2 gelas air. Rebus kira-kira selama 20 menit, selanjutnya ikuti cara 1 di atas. (Rasanya lebih segar). Cara 3. Bila bandeng diganti dengan udang, rasanya hampir mirip dengan tom yam kung (masakan Thailand), tambahkan bubuk cabe saja dan daun jeruk lengkuas dan daun sereh diperbanyak.
2.   PALOMARA SANTA (IKAN KUAH SANTAN). Bahan-bahan yang dibutuhkan : ½ kg pindang ikan tongkol atau pindang kembung panjar (salepe ruma londe bila ada), potong-potong sesuai selera; minyak untuk menggoreng ikan. Bahan dan bumbu lainnya sama seperti Resep 1 (uta londe palomara) kecuali air asam ditiadakan tapi diganti dengan 2 gelas santan dari ½ butir kelapa ukuran besar. Cara Membuatnya : Goreng terlebih dahulu ikan pindang tongkol di atas api sedang jangan sampai garing, goreng sebentar saja; Iris tipis-tipis semua bumbu; cabe, bawang merah, bawang putih, kunyit, tomat, belimbing wuluh. Panaskan minyak diatas penggorengan atau panci, setelah panas masukkan semua bumbu yang sudah diiris, lengkuas dan sereh setelah layu masukkan ikan yang sudah digoreng disusul santan. Masak selama kira-kira 15 menit setelah matang masukkan daun kemangi tambahkan sedikit gula atau penyedap rasa bila suka. Siap dihidangkan dengan sambal dhoco toma atau sambal yang bercita rasa asam.
3.   UTA LONDE PURU (BANDENG BAKAR). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 ekor bandeng ukuran sedang (6-7ons) disayat 2-3 sayat, sisiknya dibiarkan utuh bersihkan isi perutnya bila suka biarkan saja isi perutnya, buang empedunya saja. ½ sendok makan garam yang sudah dilarutkan dalam 100 cc air matang Alat pemanggangan dan arang secukupnya. Cara membuatnya. Siapkan alat pemanggang serta arang yang sudah jadi bara, panggang ikan bandeng di atasnya balik-balik jangan sampai hangus. Setelah matang celupkan segera ikan bandeng ke dalam air garam. Hidangkan bersama tambeca maci ro’o parongge (lihat kelompok Sayur Mayur) serta sambal sia dungga atau mbohi dungga, dhoco mangge moro (lihat kelompok Pelengkap atau Sambal).
4.   UTA KATO BHASA TARINDI MANGGE. Bahan-bahan yang dibutuhkan : ½ kg ikan kakap atau bandeng atau ikan apa saja sesuai selera tapi kalo bisa jangan ikan kembung, 1 batang sereh, 1 ruas jari lengkuas, 1 ikan atau 1 genggam kemangi. Bumbu yang dihaluskan : 2 buah cabe merah atau keriting, 10 butir kemiri, ½ ruas jari jahe, 10 butih bawang merah, 5 siung bawang putih, ½ ruas jari kunyit/bisa juga tidak pakai, 2 jumput tarindi (pucuk daun asam). Cara Membuatnya : Lumuri ikan dengan bumbu yang sudah dihaluskan serta campurkan dengan sereh, lengkuas dan kemangi, pepes dengan daun pisang menjadi 3 bungkus. Panaskan wajan lalu taruh ikan pepes di atasnya, bolak balik sampai matang di atas api kecil – sedang.
5.   SUP AYAM KAMPUNG. Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 ekor ayam kampung yang sedang besarnya, lebih enak kalau ayam betina tapi yang muda, yang baru 1 atau 2x bertelur, 2 lembar daun seledri, 2 ltr air untuk merebus ayam. Bumbu yang dihaluskan : 15 – 20 butir lada, 2 siung bawang putih, 3 butir bawang merah, ½ ruas jari jahe, 1 sendok the garam. Cara Membuatnya : Rebus ayam kampung sampai mendidih dan empuk, masukkan bumbu yang dihaluskan, masak sampai aromanya harum ketika sudah matang masukkan daun seledri yang sudah dipotong terlebih dahulu. Hidangkan dengan dhoco toma. Cara lainnya : bumbu ditumis terlebih dahulu dengan 1 sendok makan minyak goreng* tidak perlu tambahan penyedap rasa.
6.   UTA JANGA PURU (AYAM BAKAR). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 ekor ayam kapung yang sedang besarnya. Alat pembakaran beserta arang. Bumbu yang dihaluskan : 15 butir lada, 4 siung bawang putih, 3 butir bawang merah, ½ sendok makan garam, 1 sendok makan minyak goreng (campurkan pada bumbu yang dihaluskan). Cara Membuatnya : Ayam dibersihkan, dibelah dada (bekakak), potong kakinya hingga 5 cm dibawah ruas paha. Lumuri ayam dengan bumbu yang sudah dihaluskan diamkan selama 30 menit. Sementara menuggu ayam didiamkan, buatlah bara di atas pemanggang. Setelah siap, panggang ayam sambil di bolak balik agar tidak hangus. Setelah matang siap dihidangkan panas-panas dengan sambal dhoco sia dungga (sambal bawang). Kalau suka yang agak manis bisa ditambah dengan olesan madu sebelum ayamnya dipanggang.
7.   UTA MAJU (DAGING RUSA). Daging rusa di Bima biasanya diawetkan dengan cara didendeng. Dendeng Daging Rusa Bima tidak menggunakan bumbu yang bermacam-macam sebagai layaknya dendeng pada umumnya yang menggunakan ketumbar dan gula. Dendeng rusa  Bima hanya menggunakan garam, jaman dulu mungkin orang Bima memang tidak mengenal macam-macam bumbu atau mungkin orang Bima mengutamakan rasa yang orisinil, sebuah citarasa. Ini juga patut disyukuri karena dengan jenis dendeng yang seperti ini daging rusa bisa diolah kembali menjadi berbagai macam masakan. Bukan hanya daging yang diawetkan/didendeng tapi juga tulang iga rusa juga diawetkan untuk selanjutnya menjadi bahan campuran sayur. Hm.aromanya…….beda! Saya tidak menulis pengolahan daging rusa segar karena daging rusa segar bisa dibuat bermacam-macam masakan seperti halnya daging kambing, sate gulai atau semur. Saya ingin menghadirkan yang khas Bima saja. Pada saat ini semakin sulit mendapatkan Dendeng Rusa karena populasi Rusa Bima yang sudah jauh berkurang atau mungkin bisa dikatakan sebentar lagi akan punah!
8.   UTA MAJU PURU (DAGING RUSA BAKAR). Bahan-bahan yang dibutuhkan : Dendeng Maju, potong-potong sesuai selera Siapkan panggangan beserta arang buatlah bara/bisa juga langsung bakar di atas nyala kompor. Siapkan martil pemukul daging dan alasnya, bisa berupa talenan atau cobek. Cara Membuatnya : Bakar daging dendeng Uta Maju di atas bara api, bolak-balik sebentar, setelah harum angkat, taruh daging diatas cobek lalu memarkan dengan martil jangan sampai tercabik-cabik biarkan utuh, bakar lagi sebentar sampai diperkirakan matang. Bila dagingnya terlalu asin bisa dicuci dulu sebelum diolah, bila masih terasa terlalu asin juga cuci lagi  setelah dimemarkan sebelum dibakar untuk kedua kalinya. Siap dihidangkan dengan sayur asam wua parongge.
9.   UTA MAJU NCANGO (DAGING RUSA GORENG). Dendeng Maju, potong-potong sesuai selera Siapkan panggangan beserta arang buatlah bara/bisa juga langsung dibakar di atas nyala kompor. Siapkan martil pemukul daging dan alasnya, bisa berupa talenan atau cobek. 3 sendok makan minyak goreng. Alat penggorengan. Cara Membuatnya : Bakar daging dendeng Uta Maju di atas bara api, bolak balik sebentar, setelah harum angkat, taruh daging diatas cobek lalu memarkan dengan martil jangan sampai tercabik-cabik biarkan utuh. Panaskan minyak dengan api kecil, goreng daging sudah dimemarkan. Goreng hanya sebentar saja (seperti menggoreng ikan asin). Bila dagingnya terlalu asin ikuti petunjuk di atas; cuci setelah dimemarkan lalu digoreng.
10.            UTA MAJU NCANGO SIPA (ABON DAGING RUSA). Bahan-bahan yang dibutuhkan : ½ kg dendeng Maju. Siapkan panggangan beserta arang buatlah bara/bisa juga langsung bakar di atas nyala kompor.      Siapkan martil pemukul daging dan alasnya, bisa berupa talenan atau cobek. ¼ kg bawang merah (Buatlah bawang goreng untuk tabur). 10 tangkai cabe keriting potong serong, bila suka pedas (goreng untuk tabur). Bumbu Perendam : 1 gelas  air asam jawa/bima dari 1 lembar asam matang, ½ kepal gula jawa/gula merah (kurangi bila tidak suka manis), Garam sedikit (sesuaikan dengan keasinan dendeng), Penyedap rasa bila suka, ¼ ltr minyak untuk menggoreng, Alat penggorengan. Cara Membuatnya : Bakar daging dendeng Uta Maju di atas bara api, bolak balik sebentar, setelah harum angkat, taruh daging diatas cobek lalu memarkan dengan martil. Suwir-suwir daging tersebut dengan menggunakan tangan, jangan terlalu halus. Bumbu Perendam : Haluskan gula, campur dengan air asam serta garam dan penyedap rasa. Masukkan daging yang sudah dicabik ke dalam bumbu perendam diamkan 30 menit. Goreng di atas api sedang setelah matang angkat dan tiriskan. Campur denga bawang goreng dan cabe goreng. Cocok untuk disimpan dan untuk perjalanan jauh.
Karena  hanya daging kering yang diasinkan, Uta Maju masih bisa dibuat bermacam-macam masakan, misalnya : Mpal goreng, dendeng balado atau bisa juga disayur atau masakan yang berkuah.
11.            SOTO KAMBING. Soto kambing termasuk makanan favorit di Bima. Sepertinya masakan satu ini aslinya dari Madura karena sebagaian besar penjual Soto di Bima adalah orang Madura. Meskipun berasal dari Madura tentu saja tentu saja sudah mengalami perubahan yang telah disesuaikan dengan selera orang Bima, rasanya segar meskipun bersantan. Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 kg daging kambing (campur iga, jeroan dan daging), 3 lembar daun jeruk, 2 lembar sereh, 2 ruas jari lengkuas(memarkan), 3 butir cengkeh, 3 gelas santan dari 1 butir kelapa, 3 ltr air untuk rebus daging, 3 sendok makan minyak goreng. Bumbu yang dihaluskan : ½ sendok teh merica, 1 sendok teh ketumbar, ½ jintan, 7 butir kemiri, 1 ruas jari jahe, 1 ruas jari kunyit, 3 buah cabe merah (keluarkan bijinya), 10 butir bawang merah, 6 siung bawang putih, ½ makan garam. Pelengkap : Lontong, Sambal (rebus cabai dan haluskan bersama sedikit garam), Kecap, Bawang goreng untuk taburan, Acar (ketimun dan bawang merah), Jeruk Nipis. Cara membuatnya : Panaskan minyak, lalu tumis bumbu halus masukkan sereh, lengkuas, daun jeruk dan cengkeh. Setelah harum masukkan daging, aduk-aduk sampai daging layu, biarkan beberapa menit setelah air mengering masukkan air, rebus sebentar lalu masukkan santan, rebus sampai daging empuk, masukkan penyedap rasa sedikit bila suka. Hidangkan bersama lontong dan pelegkap lainnya.
12.            SARONCO PEKE (ASAM-ASAM TULANG IGA SAPI). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 kg tulang iga sapi, 2 cm lengkuas (memarkan), 1 lembar daun sereh, 1 ikat pataha doro (daun ruku-ruku), 1 buah tomat besar (potong-potong), 1 gelas air asam dari 3 lembar asam matang, Air secukupnya untuk merebus tulang iga, Bumbu yang dihaluskan : 2 buah cabe besar (keluarkan bijinya), 20 butir lada, ½ sendok teh ketumbar, 1 ruas jari kunyit, 1 tomat kecil, 1 sendok makan minyak goreng, Garam secukupnya. Cara Membuatnya : Rebus tulang iga sampai setengah empuk, diamkan sampai dingin, setelah dingin angkat dan buang lemak-lemak yang mengambang menutupi kuah. Panaskan kembali. Tumis bumbu yang sudah dihaluskan setelah harum angkat dan masukkan ke dalam panci yang berisi tulang iga diikuti bumbu lainnya; tomat, sereh, lengkuas dan terakhir daun ruku-ruku (dimasukan menjelang matang/diangkat).


Kelompok Sayur Mayur :      
1.   UTA MBECA RO’O PARONGGE (SAYUR DAUN KELOR). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 3 ikat daun kelor (sebagai patokan: ikatan daun katuk), 1 genggam tauge pendek, 1 ikat kangkung, 5 butir bamea (Okra, jenis sayuran banyak terdapat di Timur Tengah dan Pakistan), 5 butir bawang merah (potong-potong), 1 batang tamu kunci (potong-potong), 2 liter air. Bumbu-bumbu : Garam secukupnya, Gula secukupnya, Penyedap rasa sedikit bila suka. Cara Membuatnya : Siangi daun kelor (rontokkan daunnya), kangkung dipotong sepanjang 2 cm, bamea dipotong-potong sepanjang 1 cm. Campur dan cuci semua bahan-bahan kecuali bamea dicuci tersendiri. Rebus dua liter air sampai mendidih, masukkan semua bahan kecuali okra yang dimasukkan setelah beberapa menit untuk menghindari agar okra tidak terlalu berlendir. Masukkan garam dan gula secukupnya, masak terus sampai sayur matang. Angkat dan hidangkan dengan uta puru dan sambal dhocho mange.
2.   UTA MBECA SARONCO WUA PARONGGE (SAYUR ASAM DAUN KELOR). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 8 batang buah kelor yang besar tapi tidak tua, 1 ikat kangkung, 5 butir bemea (okra), 6 butir bawang merah (potong-potong), 1 buah tomat ukuran besar, 2 liter air, 1 gelas air asam dari 3batang asam matang. Bumbu-bumbu : Garam secukupnya, Gula seujung sendok teh, Penyedap rasa sedikit bila suka. Cara membuatnya : Siangi buah kelor dengan cara membuang kulitnya kemudian potong sepanjang 7 atau 8 cm, kangkung dipotong-potong, okra dipotong-potong kira-kira 1-2 cm (pisahkan), tomat dan bawang dipotong-potong. Rebus air hingga mendidih, masukkan buah kelor terlebih dahulu kemudian diikuti sayuran lainnya. Masukkan bawang merah, tomat dan air asam serta garam dan gula. Masak terus hingaga matang jangan sampai terlalu matang karena buah kelor akan terpisah-pisah dan bamea akan terlalu berlendir.
3.   UTA MBECA SANDANAWA DENGAN RUSUK RUSA KERING. Bahan-bahan yang dibutuhkan : 6 kepal atau bulatan daun sandanawa yang sudah direbus terlebih dahulu dan sudah diperas seperti daun singkong yang akan digulai, 1-2 batang rusuk rusa kering (potong-potong sesua selera), 2 gelas santan kental dari 1 kelapa dan 3 gelas santan encer dari kelapa yang sama, 1 batang sereh, 1 ruas jari lengkuas memarkan. Bumbu-bumbu : 3 biji cabe keriting (potong-potong), 7 biji bawang merah (potong-potong), 3 siung bawang putih (potong-potong), 1 buah tomat sedang (potong-potong), Garam secukupnya, 1 sendok minyak goreng (ini pilihan boleh juga tidak ditumis), Cara Membuatnya : Rebus daun sandanawa dan tulang rusuk dengan santan encer bila airnya kurang tambahkan air biasa, rebus sampai mendidih. Tumis bumbu yang sudah dipotong-potong setelah layu masukkan kedalam sayur diikuti garam dan santan kental, masak terus sambil diaduk-aduk sampai mendidih.
Kelompok makanan pelengkap :
1.   MANGGEMADA (GULAI JANTUNG PISANG). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 1 buah jantung pisang kepok, 1 genggam kelapa parut (sangrai lalu dihaluskan), 1 gelas santan kental dari 1 kelapa, 300 gr udang (rebus tampa air, buang kulit dan kepalanya), 1 butir jeruk nipis (ambil airnya). Bumbu-bumbu (potong-potong sesuai selera) : 5 buah cabe keriting, 7 butir bawang merah, 5 buah belimbing wuluh, Garam secukupnya. Cara Membuatnya : Siangi jantung pisang (ambil bagian putihnya), Rebus sampai matang, angkat dan tiriskan, dipotong-potong  lalu diperas (buang air getirnya), Campurkan dengan potongan cabe, bawang merah, belimbing dan kelapa gongseng serta garam. Masukkan santan dan air jeruk nipis, terakhir masukkan udang yang sudah direbus.
Udang dapat digantikan dengan : Cumi atau Ikan Pari yang dipindang atau Cingur Sapi/Kulit yang dibakar terlebih dahulu.
2.   MBOHI JAME. Bahan-bahan yang dibutuhkan : ¼ kg mbohi mene (ikan teri basah yang sudah difermentasi), cuci lalu tiriskan, 1 sendok makan minyak goreng, 300 ml santan dari ½ buah kelapa, 1 genggam daun kemangi, 1 lembar sereh, 1 ruas jari lengkuas, 10 buah cabe rawit biarkan utuh, Garam secukupnya. Bumbu-bumbu (semuanya diiris-iris) : 5 cabe keriting, 10 butir bawang merah, 5 siung bawang putih, 1 buah tomat, 5 buah belimbing wuluh, 1 ruas jari kunyit, Cara membuatnya : Panaskan minyak dan tumis semua bumbu yang sudah diiris-iris diikuti sereh, lengkuas, setelah harum masukkan mbohi mene aduk aduk sebentar lalu masukkan santan, garam secukupnya dikira-kira garamnya mengingat mbohi mene sudah asin. Masukkan cabe rawit setelah matang dan santan berkurang masukkan kemangi lalu angkat. Kalau tidak ada mbohi mene bisa digantikan dengan ikan teri basah tetapi sebelum dimasak digarami terlebih dahulu dan biarkan menjadi layu (tidak perlu dimasukkan ke dalam lemari es) sampai hendak dimasak. Rasanya lebih segar.
3.   TUMI SEPI (TUMIS). Sepi adalah makanan khas Bima yang terbuat dari udang rebon (anak udang yang sangat kecil yang di Bima disebut tarsuku. Udang rebon difermentasi dengan garam saja sehingga mengeluarkan aroma khas. Bahan-bahan yang dibutuhkan : 2 sendok makan Sepi, 1 ruas jari lengkuas, 1 lembar sereh, 2 genggam kemangi, 1 sendok makan minyak goreng, 100 ml air. Bumbu-bumbu (Semuanya diiris-iris) : 10 butir bawang merah, 5 siung bawang putih, 1 buah tomat ukuran besar, 7 buah belimbing sayur, 5 buah cabe keriting, 1-15 buah cabe rawit biarkan utuh, Garam secukupnya, Gula pasir ½ sendok teh. Cara Membuatnya : Panaskan minyak, tumis semua bumbu yang sudah diiris masukkan daun sereh dan lengkuas setelah harum masukkan Sepi, garam secukupnya dan gula pasir, masukkan 100 ml air, aduk-aduk terus hingga matang. Sebelum diangkat masukkan cabe rawit dan kemangi biarkan cabe rawit layu setelah itu angkat. Siap dihidangkan dengan lalapan. Cocok dihidangkan bersama sayur asam atau sayur bening.
SEPI bisa juga dikonsumsi langung tanpa dimasak terlebih dahulu. Tambahkan cabe rawit (potong-potong) dan air jeruk purut, lebih sedap bila kulit jeruk purut diiris-iris dicampurkan dengan SEPI (sebelumnya jeruk purut dimemarkan dulu untuk membuang rasa getir). Atau juga bisa dicampurkan dengan mbohi dungga (sambal parado).
4.   DHOCO TOMA (SAMBAL TOMAT). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 2 tomat (iris tipis-tipis), 1 timun (buang kulitnya, dicacah-cacah, buang bijinya), 3 buah cabe rawit (potong kecil-kecil, atau gerus kasar), 6 butir bawang merah, 1 jumput tauge pendek, Garam secukupnya. Cara Membuatnya : Cuci semua bahan-bahan. Campur semua bahan-bahan, aduk-aduk pakai sendok sampai tercampur dengan baik dan biarkan sebentar sebelum disantap agar bahan- bahan agak layu sehingga kalau disantap tidak kaku. (Cara instant agar cepat layu : bahan dicampur sambil sedikit diremas-remas).
5.   SIA DUNGGA (SAMBAL BAWANG). Bahan-bahan yang dibutuhkan : 10 butir bawang merah (potong melintang, agak tebal), 5 buah cabe boleh pilih cabe keriting atau rawit tergantung selera (potong melintang), Garam secukupnya, 2 jeruk nipis (ambil airnya), ¼ sendok gula (bila suka). Cara Membuatnya : Cuci semua bahan-bahan. Campur semua bahan-bahan, tiriskan lalu masukkan garam dan air jeruk nipis serta sedikit gula. Untuk tampak cantik bawang dicuci terlebih dahulu sebelum dipotong-potong. Dan juga bisa ditambahkan cabe merah besar yang dipotong melintang tipis sebagai hiasan.
6.   MBOHI DUNGGA (SAMBAL FERMENTASI JERUK NIPIS). Sambal ini khusus diproduksi di Desa Parado secara turun temurun. Sederhana saja bahan dan cara pembuatannya. Terbuat dari jeruk (jeruk khusus yang ada di Parado semacam jeruk Medan tapi rasanya asam) yang dibuang kulit dan bijinya serta diiris-iris lalu dicampurkan dengan garam. Dibiarkan selama berminggu-minggu (difermentasi). Jadilah sambal siap saji tahan bertahun-tahun.
Kelompok Penganan (Makanan kecil) :
1.   BINGKA DOLU. Bahan-bahan yang dibutuhkan : 500 gr tepung terigu, 500 gr telur, 400 gr gula pasir, 5 gelas santan dari 2 kelapa ukuran sedang, 1 gelas air pandan suji (untuk pewarna hijau), ½ sendok teh garam, Minyak untuk mengoles cetakan. Cara Membuatnya : Campur telur dan gula kemudian kocok sebentar sampai gula hancur dan berbuih (tidak sampai mengembang), Masukkan santan dan air suji serta garam dan aduk-aduk, Masukkan terigu sedikit demi sedikit, aduk terus sampai tercampur dengan baik, Panaskan cetakan, olesi dengan minyak atau mentega setelah panas tuangi adonan setengah sampai tiga per empat cetakan saja (jangan penuh), tutup. Setelah matang angkat dengan menggunakan 2 sendok makan. Pastikan cetakan terbuat dari kuningan yang menghantarkan panas dengan baik.
2.   SRIKAYA. Bahan-bahan yang dibutuhkan : 500 gr telur, 400 gr gula merah, 4 gelas santan dari 4 kelapa ukuran sedang, ½ sendok teh garam, 1 ruas jari kayu manis, 5 lembar daun pandan, 1 loyang atau mangkok tahan panas, Dandang atau panci ukuran besar (yang memuat loyang). Cara Membuatnya : Rebus gula merah dengan segelas air, masukkan kayu manis dan daun pandan. Setelah gula cair angkat, dinginkan lalu saring. Kocok telur sebentar (kocok tangan saja, jangan sampai mengembang) setelah itu campurkan dengan santan dan gula serta garam, aduk-aduk sampai tercampur dengan baik. Masukkan adonan ke dalam loyang, Siapkan dandang berisi air untuk merebus. Taruh loyang berisi adonan ke dalam dandang dengan posisi air merendam setengah sampai tiga per empat loyang. Rebus selama 1-2 jam (periksa airnya sekali-sekali jangan sampai habis (tambahkan bila perlu). Pastikan air merendam loyang berisi adonan untuk mendapatkan tekstur srikaya yang lembut dan berserat bolong-bolong.

Mai ta kabua mena ngaha dambe dohoe……..cina ro angi.
Dei samada mena kaita rasa ndai mbojo ma ntika raso.