Selasa, 19 Juni 2012

LAPORAN PRAKTIKUM DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK


LAPORAN PRAKTIKUM
DEKOMPOSISI BAHAN ORGANIK








Disusun oleh:
ARKANUDDIN
08740016











JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2009
BAB I
 PENDAHULUAN

I.I Latar belakang

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering mendengar nama pupuk di antaranya pupuk kompos, pupuk kompos adalah pupuk yang terjadi dari hasil penguraian organisme-organisme sehingga menyebabkan dekomposisi bahan yang semulanya berbentuk menjadi lebih halus dan bermanfaat bagi masyarakat. Kandungan yang terdapat dalam dekomposisi bahan organik bervariasi. Ada kandungan protein dengan bahan-bahan yang lebih kompleks menjadi siap pakai. Kandungan-kandungan yang terdapat dalam tubuh mahluk hidup diantaranya kandungan air dan oksigen bahan baku kompos merupakan hal yang sangat penting.

Manfaat bahan organic bagi kehidupn kita sehari-hari terutama untuk tanaman pertanian adalah membuat PH, tekstur dan struktur tanah menjadi lebih baik sehingga apapun yang di butuhkan tanaman terpenuhi dengan adanya dekomposisi. Disamping itu tanah dan tanaman yang telah didekomposisi terlihat tampak subur dan menambah kadar humus dalam tanah serta mempercepat pertumbuhan dan perkembangan tanaman.

I.2 Tujuan
o   Mahasiswa dapat mengetahui cara penentuan kadar bahan organic
o   Mahasiswa dapat menentukan penentuan kadar N


I.3 Tinjauan pustaka

Pengomposan merupakan proses perombakan (dekomposisi) dan stabilisasi bahan organic oleh mikro organisme dalam keadaan lingkungan terkendali (terkontrol) dengan hasil akhir berupa humus atau kompos ( siman mora,s. dan salundik. 2006).

Karbon dalam bahan dioksida dengan campuran oksidator yang terdiri dari kalium dikkromat dan asam karbon dalam bahan dititrasi dangan amonium ferosulfat berbanding terbalik dengan kadar karbon ( anonymous. 2009 ).
Proses pembuatan kompos adalah suatu proses perubahan susunan bahan organic dari perbandingan C/N tinggi menjadi C/N rendah. Perubahan-perubahan yang terjadi dapat diuraikan sebagai berikut:
§  Senyawa-senyawa hidrat arang seperti selulosa, hemiselulosa dan sebagainya di uraikan menjadi senyawa-senyawa Co2 dan H2O atau CH4 dan H2.
§  Zat putih telur diuraikan melalui bentuk amida-amida dan asam-asam amino menjadi NH3, Co2 dan H2O.
§  Penguraian lemak dan lilin menjadi Co2 dan air (H2O)
§  Pelepasan kembali unsure-unsur hara yang menyusun mikroorganisme (N, P, K dan lain-lain) setelah jasad-jasad mikro tersebut mati.
§  Pembebasan unsure-unsur hara dari senyawa-senyawa organic (humus) menjadi senyawa anorganik(mineral) melalui proses mineralisasi (djoehana setyamidjaja. 1986).


BAB II
METODOLOGI

2.I penentuan kadar bahan organik (C)

2.I.I Alat
§  Labu kjeldahl
§  Buret pipet ukur
§  Destructor
§  Statif dan klem
§  Karet hisap
§  Destilator
§  erlenmeyer

2.I.2 Bahan
§  HgO
§  H3BO3
§  Aquades
§  Na2SO4
§  HCL
§  H2SO4
§  NaOH
§  MM


2.I.3 Cara mengerjakan
§  Menghaluskan bahan dan menimbang bahan sebanyak 0,5 gram untuk bahan cair mengambil 2 ml bahan
§  Memasukkan bahn kedalam tabung kjeldahl, lalu menambahkan 2 gram campuran Na2SO4-HgO (20:1) untuk katalisator
§  Setelah dingin menambahkan 35 ml aquades dan menembahkan 8,5 ml NaOH 45% dan melakukan destilasi, destilat ditampung dalam 6,5 H3BO3 4% yang telah di beri tetesan indicator MM atau MB dan menampung sebanyak 25 ml
§  Mentitrasi destilat yang di peroleh dengan HCL 0,02 N
§  Kadar N (%) = ml titrasi × N HCL × 14, 008 × 100 %
                                                              gram bahan × 1000



2.2 penentuan kadar N ( metode semi micro kjeldahl )
2.2.I Alat
§  Buret
§   karet hisap
§  Gelas kimia
§  Erlenmeyer
§  Pipet tetes
§  Labu takar

2.2.2 Bahan
§  K2Cr2O7
§  H2SO4


2.2.3 Cara mengerjakan
§  Menimbang 0,5 gram bahan yang telah di keringkan dan memasukkan dalam gelas kimia lalu menambahkan 25 ml K2Cr2O7 1N
§  Menambahkan 5 ml H2SO4 pekat dengan hati-hati ( warna larutan harus tetap merah orange, jika terjadi warna hijau menambahkan lagi larutan yang sama di atas dengan jumlah yang sama ) lalu mendiamkannya selana 20 menit
§  Jaikan volum menjadi 50 ml dngan aquades dan membiarkan mengendap. Mengambil 10 ml larutan yang jernih (bagian atas) dan memasukkan kedalam Erlenmeyer lalu menambahkan 10 tetes diphe
§  Mentitrasi  dengan amonium fero sulfat sampai terjadi perubahan menjadi warna hijau
Kadar (%) = (ml titrasi blangko – ml titrasi sample)×N titran×38,05×5×100%
gram bahan × sampel





BAB III
DATA PENGAMATAN
3.1 Data pengamatan

a.     penentuan kadar bahan organic
sampel
titrasi
v. titrasi(ml)
Kadar karbon(%)
sebelum
sesudah
Pupuk daun

p. daun dan p. kandang sapi

p.daun
orange

orange


orange
Hijau k

Hijau k


Hijau k

22,6 ml

22,5 ml


12,4 ml
1,14 %

0,85 %


0,76 %

Perhitungan:
1.     C (%) = 34 – 22,6 × 5 × 100 % = 1,14 %
                                             0,5 × 1000

2.      C (%) = 34 – 25,5 × 5 × 100 % = 0,85 %
                    0,5 × 1000

3.      c (%) = 34 -12,4 × 5 × 100 % = 0,76 %
                                      0,5 × 1000






b.penentuan kadar N
sampel
titrasi
v. titrasi ml
Kadar N %
Rasio N/C
sebelum
sesudah
Pupuk 1

Pupuk 2

Pupuk 3
kuning

kuning

kuning
m. jambu

m. jambu

m. jambu
3,4

0,7

2,2
0,476

0,1

0,308
2,39

8,5

2,46



Perhitungan:
1.      N (%) = 3,4 × 0,05 × 14,008 × 100 % =  2,39  %
                                                   0,5 × 1000

2.      N (%) = 0,7 × 0,05 × 14,008 × 100 %  = 8,5 %
                                                    0,5 × 1000

3.      N (%) = 2,2 × 0,05 × 14,008 × 100 %  = 2,46 %
                                                    0,5 × 1000












BAB IV
PEMBAHASAN

Hasil dari penentuan kadar bahan organic © dari praktik di laboraturium dengan menggunakan 3 tahap percobaan yaitu sample pupuk daun dan sample pupuk kandang maka dari percobaan tersebut dapat kita lihat bahwa yang mengandung kadar karbon yang paling banyak ada pada sample yang pertama (pupuk daun).

Dalam percobaan kedua penentuan kadar N dengan menggunakan (metode semi kjeldahl) dimana dari percobaan ini didapatkan kadar N (%) yang tinggi ada pada ample pupuk daun.

Setelah mendapatkan hasil dari kedua percobaan baik penentuan kadar organic © dan juga penentuan kadar (N) disitu didapatkan rasio C/N dengan hasil paling tinggi adalah percobaan dari pupuk yang ke 3.

Adapun manfaat dari dekomposisi bahan organic diantaranya kita bias mengetahui penentuan kadar bahan organic © dan juga penentuan kadar (N), selain itu juga kita bisa mengetahui cirri-ciri dari bahan organic yang sudah mengalami proses dekomposisi dan juga kita bisa mengetahui tahap-tahap dan factor-faktor apa saja yang bisa mempengaruhi dekomposisi bahan organic.




BAB V
KESIMPULAN

Dari praktikum diatas kita dapat menambah wawasan kita tentang tata cara dalam mendekomposisi bahan organic yang bisa kita kembangkan atau kita praktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Khususnya pada bidang pertanian, selain itu kita juga bisa menentukan kadar dari bahan organic, fase perombakan lanjutan dan sintesis ulang senyawa-senyawa organic.


DAFTAR PUSTAKA

Anonymous. 2009. panduan praktikum biokimia. Umm. Malang
Djoehana setyamidjaja. 1986. pupuk dan pemupukan. Swadaya. Jakarta
Simanmora, S, dan salundik. 2006. pupuk dan pemupukan. Swadaya. jakarta

LAPORAN PRAKTIKUM KLOROFIL






Disusun oleh:
ARKANUDDIN
08740016












JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2009



                                                  BAB I
I.PENDAHULUAN

I.I latar belakang

          Klorofil adalah zat hijau daun yang terdapat pada tanaman, terutama tanaman tingkat tinggi. Klorofil ada 2 macam yaitu klorofil a dan klorofil b yang terdiri dari molekul polfirin, hemoglobin, moglobin dan enzim sitokrom. Seperti halnya manusia dan hewan tumbuhan mengalami pembentukan klorofil yang di bawah oleh suatu  gen tertentu di dalam kromosom. Jika gen yang ada di dalam kromosom ini tidak ada maka tanaman akan tampak putih atau berwarna kuning. Tanaman juga memerlukan unsur-unsur seperti Mn, Cu, Zn untuk dapat menghasilkan klorofil yang tahan terhadap radiasi sinar matahari.

          Klorofil sering di manfaatkan atau digunakan oleh tumbuhan untuk melakukan proses fotosintesis, dari hasil proses fotosintesis inilah zat hijau daun atau klorofil pada tanaman di ubah menjadi glukosa. Manfaat klorofil lainnya adalah sebagai penyerap cahaya matahari yakni radiasi elektromagnetik, tanpa klorofil tanaman tidak bisa melakukan proses fotosintesis.

I.2 Tujuan
§  Mahasiswa mengetahui cara penentuan kadar klorofil


I.3 Tinjauan Pustaka

          Klorofil adalah pigmen karena menyerap cahaya, yakni radiasi elekromagnetik pada spectrum kasat mata(visib). Senyawa putih mengandung semua warna spectrum kasat mata dari merah sampai violet. Tetapi seluruh panjang gelombang unsurnya tidak di serap dengan baik secara merata oleh klorofil. Klorofil ada 2 macam yaitu klorofil a dan klorofil b yang terdiri dari molekul polfirin, hemoglobin, moglobin dan enzim sitokrom ( kimbal,jhon,w. dkk.1990 ).

          Klorofil a yang dapat berperan serta langsung dalam reaksi terang, yang mengubah energi matahari menjadi energi kimia. Klorofil b hanya dalam satu gugus fungsional yang di ikat pada porfirin (Campbell, 2000).

          Pembentukan klorofil seperti halnya pembentukan pigmen-pigmen lain pada hewan dan manusia dibawakan oleh suatu gen tertentu di dalam kromosom, jika gen ini tidak ada maka tanaman tampak putih belaka. Klorofil dapat di bentuk dengan tiada memerlukan cahaya. Terlalu banyak sinar berpengaruh buruk terhadap  klorofil. Larutan klorofil yang di hadapkan pada sinar kuat tampak berkurang hijaunya. Tanaman akan mengalami klorosis jika kekurangan unsur-unsur Mn, Cu, Zn meskipun dalam jumlah yang sangat sedikit (dwidjo saputra, 1978).

          Penentuan kadar klorofil dalam jaringan tanaman di lakukan dengan cara mengekstrak pigmen klorofil dengan aseton atau methanol kemudian hasil ekstrak di amati absorbansi pada λ 663 nm dan λ 645 nm (anonymous, 2009).







BAB II
METODOLOGI

2.I penentuan kadar klorofil

          2.I.I  Alat

§   Mortal martil       
§   Kertas saring
§   Kuvet
§   Labu takar
§   Pipet ukur
§   Karet hisap
§   Corong kaca
§   Tabung reaksi
§   spektrofotometer


2.I.2 Bahan
§   aseton 85 %


2.I.3 Cara Mengerjakan

o    menimbang 2 gram bahan lalu menghancurkan dalam mortal martil
o   Menambahkan 50 ml aseton 85 % dan membiarkan selama 4 jam lalu menyaring
o   Mengambil 5 ml filtrat dan mengencerkan hingga 25 ml dengan aseton
o   Mengamati absorbansi pada λ 663 dan λ 645 nm


                       Klorofil a (ppm) = 12, 21 × A 663- 2, 81 × A 645 × fp
                                                                   gram bahan

                       klorofil b (ppm) = 20, 13 × A 645- 5, 03 × A 663 × fp
                                                                   gram bahan

                       klorofil total (ppm) = 17, 20 × A 645- 7, 18 × A 663 × fp
                                                                   gram bahan


                        ket : fp = 5



BAB III
DATA PENGAMATAN

3.I Data Pengamatan

No.
sampel
absorbansi
Klorofil a
Klorofil b
Klorofil total
645 nm
663 nm
1
2
3
Daun muda
Daun tua
Daun kuning
0, 179
0, 311
0, 053
0, 268
0, 452
0, 096
27, 69
46,5
10,24
22, 57
39, 9
5, 88
22,99
86, 2
16, 162

3.2 perhitungan

Rumus :
                       Klorofil a (ppm) = 12, 21 × A 663- 2, 81 × A 645 × fp
                                                                   gram bahan

                       klorofil b (ppm) = 20, 13 × A 645- 5, 03 × A 663 × fp
                                                                   gram bahan

                       klorofil total (ppm) = 17, 20 × A 645- 7, 18 × A 663 × fp
                                                                   gram bahan


                        ket : fp = 5

klorofil a (ppm) = 12, 21 × 0, 268- 2, 81 × 0, 179  × fp
                                                0,5             
                         =  27, 69 nm

klorofil b (ppm) = 20, 13 × 0, 179- 5, 03 × 0, 268 × fp
                                                0,5             
                         =  22, 57 nm

klorofil total (ppm) = 17, 30 × 0, 179 + 7, 18 × 0, 268 × fp
                                                0,5             
                         = 22, 99  nm



BAB IV
PEMBAHASAN

Pada percobaan penentuan kadar klorofil yaitu pada daun tua, daun muda dan daun kuning yang memiliki tingkat klorofil tinggi terdapat pada daun yang tua dengan klorofil dengan klorofil total berkisar 86, 2 nm, lalu pada daun yang muda nilai klorofil totalnya adalah 22, 99 nm sedangkan pada daun yang berwarna kuning klorofil totalnya hanya 16, 162 nm. Pada percobaan penentuan klorofil ini sampel-sampel tersebut yaitu daun muda, daun tua dan daun kuning masing-masing di beri larutan aseton.

          Manfaat dari percobaan tersebut adalah kita dapat mengetahui penentuan kadar klorofil pada beberapa tipe daun. Selain itu kita juga dapat membedakan mana tipe daun yang memiliki kandungan klorofil mulai dari yang rendah sampai yang memiliki kandungan klorofil yang tinggi. Dengan demikian kita dapat mengetahui mana tumbuhan yang tahan terhadap sinar matahari dan yang tidak tahan terhadap radiasi sinar matahari.




BAB V
KESIMPULAN

          Dari percobaan praktikum yang telah di lakukan maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa semakin hijau daun maka kandungan klorofilnya semakin tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Kimbal. john, w. dkk. 1990. biologi. Erlangga. Jakarta
Campbell. 2000. biologi. Erlangga. jakarta
Dwidjo saputra, prof. 1978. pengantar fisiologi tumbuhan. Gramedia. Jakarta
Anonymous. 2009. petunjuk praktikum biokimia. Umm. malang

Sabtu, 02 Juni 2012

SERUAN UNTUK GENERASI YANG SADAR AKAN KELESTARIAN ALAM..!!!!

generasiku adalah generasi yang berperan penting dalam merusak bumi ini,, karena generasi2 yang terlahir bersamaku,, tidak semuax menyadari betapa berhargax kelestarian hutan dan lingkungan,, aku adalah bagian dari generasi yang masih diberi pilihan,, melestarikan alam atau merusak alam.

andai semua bisa sedikit menerawang untuk berpikir jauh bagaimana kehidupan 70 tahun selanjutnya,, masihkan hutan dan alamku ini selestari seperti saat ini..!?! akankah umur mereka nanti dapat menyentuh 60 an tahun keatas..!?! masih mampukah mereka menikmati air2 bersih yang dihasilkan alam seperti pada saat sekarang ini,,!?!


zaman semakin modern,, serangan polusi terjadi dimana2,, mulai air, tanah dan udara semua tercemar oleh limbah2 teknologi yang dihasilkan kaum2 dari generasiku..!!! kontribusi sampah rumah tangga dan buangan industri akan menjadi momok yang paling berpengaruh dalam rusakx alam..


demi untuk masa depan,, demi canda tawa generasi2 selanjutnya,, ayoo,, mulai sekarang kita jaga alam kita,, lestarikan hutan kita,, kita jaga lingkungan kita,, kita pelihara keseimbangan ekosistem yang ada..!!! ayoo kita lestarikan hutan kita,, mumpum air dan oksigen masih menyelubungi bumi kita..!!!


hidup kadang menawarkan pilihan pada kita,,


selamatkan alam mulai hari ini untuk kehidupan yang layak buat generasi kedepan,, atau tidak tergerak sama sekali namun penyesalan terhadap anak cucu kita menghantui dimana pun kita berada..!!!

Selasa, 22 Mei 2012

Sekolah Mencetak Intelek atau Buruh..!?!

Sekolah tidak lagi menjadi tempat untuk mencari ilmu,, melainkan telah beralih fungsi menjadi tempat mencari nilai dan kelulusan, sehingga tindak koruptor terjadi dikalangan atas dan bawah..!!!
Kita lupa bahwa untuk 5-30 tahun kedepan indonesia membutuhkan SDM yang mencukupi guna bersaing di era globalisasi,, kalau indikator penialaian selalu seperti ini,, bisa jadi kaum2 barat menguasai SDM dan SDA serta segala bidang industri di negeri ini,, pemerintah harus mengevaluasi lagi sistem yang telah diterapkan selama ini..!!!

Guna mencetak muda mudi negeri ini yang bukan hanya sekedar menjadi buruh di negeri sendiri melainkan menjadi intelek yang mampu bersaing dalam menciptakan yang namax lapangan pekerjaan..!!!